• Breaking News

    Sunday, January 25, 2026

    Suriah Kembali Gencatan Senjata 15 Hari


    Perpanjangan gencatan senjata selama 15 hari di wilayah timur Suriah oleh Kementerian Pertahanan Suriah kembali memicu perdebatan luas. Keputusan yang diumumkan secara resmi ini dinilai sebagai langkah strategis Damaskus, namun di lapangan menimbulkan pertanyaan serius terkait dampaknya terhadap pasukan garis depan, suku-suku Arab, serta dinamika kekuatan SDF yang didominasi unsur PKK.


    Wilayah timur Suriah, khususnya Hasakah dan Deir ez-Zor utara, saat ini berada dalam kondisi cuaca ekstrem. Salju dan suhu rendah menjadi tantangan nyata bagi pasukan pemerintah yang bertahan di pos-pos terbuka. Namun, gencatan senjata juga berarti tidak ada operasi ofensif besar yang dipaksakan, sehingga risiko korban akibat cuaca dan pertempuran dapat ditekan sementara.


    Di sisi lain, perpanjangan ini memberi ruang waktu tambahan bagi Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Kekhawatiran muncul bahwa jeda ini dimanfaatkan untuk menindak warga Arab yang sebelumnya membelot dan menunjukkan simpati kepada pemerintah pusat. Risiko penangkapan selektif memang ada, tetapi langkah represif terbuka berpotensi memicu kemarahan suku-suku Arab dan mempercepat keruntuhan legitimasi SDF sendiri.


    Sumber-sumber lokal menyebut bahwa SDF berada dalam posisi serba sulit. Setiap tindakan keras terhadap warga Arab justru akan memperkuat narasi bahwa SDF bukan representasi lokal, melainkan perpanjangan PKK dengan perlindungan asing. Dalam konteks ini, Damaskus tampaknya menghitung bahwa tekanan sosial internal akan bekerja tanpa perlu intervensi militer langsung.


    Perpanjangan gencatan juga membuka peluang bagi pemindahan aset. Sejumlah analis menilai bahwa selama masa ini, SDF kemungkinan mengamankan uang tunai, arsip administratif, dan data sensitif ke luar wilayah, terutama menuju Kurdistan Irak. Namun, aset strategis seperti ladang minyak, infrastruktur, dan basis logistik tidak dapat dipindahkan begitu saja.


    Pemindahan aset justru dibaca sebagai sinyal defensif. Ketika struktur sipil dan keuangan mulai dikosongkan, hal itu menandakan persiapan menghadapi fase akhir, bukan konsolidasi kekuasaan jangka panjang. Damaskus tampaknya memilih membiarkan proses ini terjadi demi mengurangi potensi perlawanan keras di kemudian hari.


    Dampak paling kompleks dirasakan oleh suku-suku Arab yang terjebak di wilayah gencatan. Secara kasat mata, mereka terpaksa berdialog dengan SDF demi bertahan. Namun dialog ini dinilai rapuh dan bersifat sementara, karena akar ketidakpercayaan antara masyarakat Arab dan struktur SDF sudah terlalu dalam.


    Pemerintah Suriah tampaknya sengaja membiarkan kontradiksi ini berkembang. Setiap hari gencatan berlalu, ketergantungan SDF pada unsur non-lokal makin terlihat, sementara tuntutan suku Arab untuk kembali ke pangkuan negara kian menguat. Strategi ini mengandalkan erosi legitimasi, bukan kemenangan cepat di medan tempur.


    Bagi pasukan pemerintah di garis depan, situasinya paradoksal. Mereka menghadapi cuaca dingin dan ketidakpastian, tetapi juga terhindar dari perintah ofensif besar yang berisiko tinggi. Dalam kalkulasi militer, menunda operasi di musim dingin kerap dianggap pilihan rasional.


    Pertanyaan kemudian mengarah pada apa yang akan terjadi setelah 15 hari berakhir. Salah satu skenario paling mungkin adalah pengambilalihan bertahap melalui kesepakatan lokal, dengan tekanan politik dan sosial menggantikan serangan frontal. Model ini memungkinkan pemerintahan Presiden Ahmed Al Sharaa masuk kembali dengan biaya militer dan politik yang lebih rendah.


    Skenario kedua adalah kolapsnya struktur sipil SDF secara internal. Ketika dana menipis dan dukungan suku melemah, kontrol wilayah dapat runtuh tanpa pertempuran besar. Dalam kondisi ini, kembalinya institusi negara bisa terjadi secara administratif, bukan militer.


    Skenario ketiga yang lebih berisiko adalah provokasi terbatas untuk memancing respons keras, baik dari SDF maupun aktor eksternal. Namun sejauh ini, indikasi menunjukkan Damaskus berusaha menghindari eskalasi yang bisa memancing campur tangan asing.


    Banyak pengamat membandingkan pendekatan ini dengan model rekonsiliasi kantong-kantong Kurdi di Aleppo sebelumnya. Di wilayah tersebut, pemerintah Suriah mengombinasikan tekanan militer, dialog lokal, dan waktu untuk memecah perlawanan dari dalam. Hasilnya bukan tanpa masalah, tetapi relatif menghindari perang kota besar.


    Namun, timur Suriah memiliki kompleksitas tambahan. Kehadiran Amerika Serikat dan keterkaitan SDF dengan jaringan regional PKK menjadikan setiap langkah Damaskus berada di bawah sorotan internasional. Karena itu, pendekatan bertahap dinilai lebih aman secara geopolitik.


    Aktor asing juga memainkan peran penting dalam kalkulasi ini. Amerika Serikat diuntungkan dari stabilitas sementara, sementara Kurdistan Irak menjadi jalur alami keluar-masuk logistik dan aset. Turki mengamati dengan cermat, terutama terkait posisi PKK di perbatasan.


    Bagi Damaskus, waktu menjadi senjata. Setiap hari gencatan berlalu tanpa insiden besar memperkuat kesan bahwa negara mampu mengelola krisis tanpa perang terbuka. Ini penting untuk diplomasi regional dan upaya normalisasi hubungan.


    Namun harga dari strategi ini ditanggung oleh warga lokal. Ketidakpastian, tekanan sosial, dan ketakutan akan pembalasan tetap menghantui masyarakat Arab di wilayah tersebut. Kritik bahwa negara tampak berjarak dari penderitaan mereka tidak sepenuhnya bisa ditepis.


    Meski demikian, dari sudut pandang negara, prioritasnya jelas: mencegah konflik besar yang bisa menghancurkan apa yang tersisa dari wilayah timur. Strategi ini dingin, teknokratis, dan jauh dari heroisme.


    Perpanjangan gencatan 15 hari ini pada akhirnya adalah pertaruhan. Damaskus bertaruh bahwa waktu akan melemahkan lawan lebih efektif daripada peluru. SDF bertaruh bahwa jeda ini cukup untuk bertahan dan menata ulang barisan.


    Hasil akhirnya belum pasti. Tetapi satu hal jelas, timur Suriah kini berada dalam fase transisi yang menentukan, di mana keputusan yang tampak pasif justru menyimpan perhitungan strategis yang dalam.


    Jika taruhan Damaskus berhasil, kembalinya negara ke wilayah timur bisa terjadi tanpa pertempuran besar. Jika gagal, gencatan ini hanya akan dikenang sebagai jeda singkat sebelum babak konflik berikutnya.


    Baca selanjutnya

    No comments:

    Post a Comment

    loading...

    Jepang

    Belanda

    Spanyol