Sebuah unggahan di platform X kembali menghidupkan perdebatan lama dalam historiografi India. Akun @Rustum_0 membagikan detail diplomasi Hyder Ali, penguasa Mysore abad ke-18, yang mencoba menjalin aliansi strategis dengan Kekaisaran Ottoman untuk melawan ekspansi kolonial Inggris di anak benua India.
Unggahan tersebut mengutip isi surat Hyder Ali kepada Sultan Abdul Hamid I, penguasa Ottoman pada paruh akhir abad ke-18. Dalam surat itu, Hyder Ali menawarkan monopoli perdagangan dan izin berdagang di wilayah Mysore yang kaya raya sebagai imbalan atas penutupan jalur Mesir bagi pergerakan pasukan Inggris.
Menurut kutipan yang dibagikan, Hyder Ali menegaskan bahwa jika jalur Mesir ditutup, ia akan memastikan Kekaisaran Ottoman memperoleh kekayaan dan kekuatan yang melampaui para pesaingnya, termasuk Rusia. Tawaran itu menunjukkan betapa seriusnya Mysore mencari dukungan internasional untuk menahan laju Inggris.
Namun, seperti diceritakan dalam thread tersebut, Sultan Abdul Hamid I menolak tawaran itu. Penolakan ini memungkinkan pasukan Inggris melintasi wilayah Ottoman dengan aman, termasuk melalui Mesir yang menjadi rute strategis menuju Laut Merah dan Samudra Hindia.
Akibat keputusan tersebut, sebanyak 6.555 prajurit Inggris dan 420 perwira mendarat di Madras untuk memperkuat pasukan East India Company yang sudah berjumlah sekitar 42.000 orang. Angka itu bahkan belum mencakup kekuatan Inggris di Coromandel, Bengal, dan Bombay.
Skala kehadiran militer Inggris ini menegaskan besarnya ambisi kolonial mereka di India selatan. Mysore, dengan sumber daya dan posisi strategisnya, menjadi target utama dalam perebutan pengaruh di kawasan tersebut.
Meski mendapat penguatan besar, pasukan Inggris tidak serta-merta meraih kemenangan. Dalam unggahan lanjutan disebutkan bahwa pasukan Hyder Ali berhasil menghancurkan kekuatan Inggris secara telak, termasuk menawan 1.006 prajurit hanya di wilayah Bidnur.
Kisah ini membuka kembali lembaran Perang Anglo-Mysore Kedua yang berlangsung antara 1780 hingga 1784. Konflik ini menempatkan Hyder Ali sebagai salah satu pemimpin militer paling tangguh dalam menghadapi ekspansi kolonial Inggris.
Hyder Ali, yang menjadi penguasa de facto Mysore pada 1761, dikenal sebagai inovator militer. Ia mengadopsi taktik Eropa modern tanpa meninggalkan keunggulan kavaleri tradisional India, menciptakan kombinasi yang mematikan di medan perang.
Akar konflik terletak pada persaingan antara Mysore dan East India Company yang berupaya menguasai wilayah selatan India yang kaya rempah dan sumber daya. Hyder Ali juga melihat ancaman dari aliansi Inggris dengan penguasa lokal seperti Nizam dari Hyderabad dan konfederasi Maratha.
Kondisi tersebut mendorongnya mencari sekutu di luar India. Selain Ottoman, Hyder Ali menjalin hubungan erat dengan Prancis, yang pada masa itu juga bersaing dengan Inggris di panggung global dan memberikan dukungan militer kepada Mysore.
Surat kepada Sultan Abdul Hamid I mencerminkan strategi Hyder Ali memanfaatkan solidaritas dunia Islam melawan kekuatan Kristen Eropa. Mesir, sebagai bagian dari wilayah Ottoman, dipandang sebagai kunci logistik yang dapat menghambat mobilitas militer Inggris.
Penolakan Ottoman diduga dipengaruhi kekhawatiran terhadap pembalasan Inggris. Pasca-Perang Tujuh Tahun, Inggris muncul sebagai kekuatan maritim global yang dominan, dan Istanbul memilih berhitung secara hati-hati.
Penguatan Inggris di Madras sempat memperkokoh posisi mereka di wilayah Carnatic. Namun Hyder Ali segera membalikkan keadaan melalui serangan mendadak dan manuver cepat yang mengejutkan lawan.
Pertempuran Pollilur pada 1780 tercatat sebagai salah satu kekalahan terburuk Inggris di India. Dalam pertempuran ini, pasukan Mysore menggunakan roket Mysore yang inovatif untuk menghancurkan formasi musuh.
Bidnur, atau Bednore, menjadi simbol keberhasilan Mysore dalam menawan pasukan Inggris pada 1783. Peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Hyder Ali pada 1782, ketika kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Tipu Sultan.
Thread di X tersebut tidak hanya menyajikan fakta sejarah, tetapi juga memicu diskusi spekulatif tentang bagaimana sejarah India mungkin berubah jika Ottoman menerima tawaran Hyder Ali. Banyak yang menilai keputusan diplomatik itu sebagai salah satu titik balik yang terlewatkan.
Akun seperti @Rustum_0, yang berfokus pada arsip Muslim India, kerap membagikan narasi alternatif untuk menantang perspektif kolonial yang dominan dalam buku-buku sejarah. Unggahan ini pun mendapat ribuan tayangan dan memicu perdebatan soal akurasi sumber.
Sejarawan modern mencatat bahwa meski aliansi internasional gagal terwujud, perlawanan Mysore memaksa Inggris merevisi strategi mereka di India selatan. Tekanan ini kemudian berlanjut ke Perang Anglo-Mysore Ketiga dan Keempat di bawah Tipu Sultan.
Warisan Hyder Ali sebagai “Singa Mysore” tetap hidup hingga kini. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan anti-kolonial yang menginspirasi generasi berikutnya dalam perjuangan kemerdekaan India.
Kisah surat yang ditolak ini mengingatkan bahwa sejarah sering kali dibentuk oleh keputusan diplomatik yang tampak kecil. Satu surat, satu penolakan, dan satu jalur yang tetap terbuka mampu mengubah arah sejarah sebuah benua.
Pada abad ke-18, India menjadi pusat utama persaingan geopolitik dunia karena wilayah ini tidak berada di bawah satu kekuasaan tunggal. Runtuhnya otoritas Kekaisaran Mughal menciptakan ruang bagi munculnya banyak kerajaan dan negara regional yang kuat, seperti Mysore, Maratha, Hyderabad, Bengal, dan Awadh. Fragmentasi politik ini menjadikan India arena terbuka bagi kekuatan asing untuk masuk, beraliansi, dan saling berebut pengaruh.
Kondisi tersebut menarik perhatian kekuatan Eropa yang tengah bersaing secara global. Inggris, Prancis, Belanda, dan Portugal melihat India bukan hanya sebagai sumber rempah, tekstil, dan pendapatan pajak, tetapi juga sebagai basis strategis untuk menguasai jalur perdagangan Samudra Hindia. Persaingan mereka di India sering kali merupakan perpanjangan langsung dari konflik geopolitik di Eropa.
Keberadaan banyak kerajaan lokal membuat kekuatan asing tidak perlu melakukan penaklukan langsung dalam tahap awal. Mereka cukup membangun aliansi dengan penguasa setempat, menyediakan bantuan militer, dan memanfaatkan rivalitas antar kerajaan India. Strategi “pecah dan kuasai” ini memungkinkan perusahaan dagang seperti British East India Company dan Compagnie des Indes Prancis berubah menjadi aktor politik dan militer.
India juga memiliki arti strategis bagi kekuatan non-Eropa. Kekaisaran Ottoman, Persia, dan bahkan Rusia memandang perkembangan di India sebagai faktor yang memengaruhi keseimbangan kekuatan global, terutama terkait perdagangan, pengaruh agama, dan keamanan jalur laut. Karena itu, konflik di India tidak pernah bersifat lokal, melainkan selalu terhubung dengan dinamika internasional yang lebih luas.
Dengan demikian, pada abad ke-18 India berfungsi sebagai panggung utama geopolitik dunia. Banyaknya kerajaan dan negara yang berdiri berdampingan menciptakan persaingan kompleks antara aktor lokal dan global. Siapa pun yang mampu mengendalikan atau memengaruhi India akan memperoleh keunggulan ekonomi, militer, dan politik yang menentukan dalam tatanan dunia saat itu.



No comments:
Post a Comment