• Breaking News

    Sunday, January 25, 2026

    Kondisi Ekonomi Irak dan Perbandingan Regional

    Ekonomi Irak saat ini masih sangat bergantung pada pendapatan dari minyak, yang menyumbang sebagian besar penerimaan negara. Menurut perkiraan IMF terbaru, GDP nominal Irak pada 2025–2026 berada di kisaran $265–280 miliar, menjadikannya salah satu ekonomi besar di dunia Arab meski masih jauh di bawah kekuatan ekonomi negara-negara Teluk.

    Jika dibandingkan dengan tetangganya, perbedaan terlihat jelas. Uni Emirat Arab memiliki GDP sekitar $550 miliar, sementara Arab Saudi mencapai lebih dari $1 triliun, jauh melampaui kapasitas ekonomi Irak. Perbedaan ini menunjukkan kekuatan finansial dan diversifikasi ekonomi GCC yang lebih maju, meski Irak juga merupakan produsen minyak besar.

    Sebaliknya, negara-negara yang mengalami konflik berkepanjangan menunjukkan kondisi yang jauh lebih lemah. Suriah, yang hancur akibat perang panjang, memiliki output ekonomi yang sangat rendah, sementara Yaman, yang masih berkonflik, hanya memiliki GDP nominal sekitar $17 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan Irak.

    Pendapatan per kapita Irak saat ini diperkirakan $5,800–6,200 per tahun, mencerminkan status ekonomi menengah rendah. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata warga Irak masih jauh dari standar hidup negara-negara Teluk seperti UAE dengan sekitar $49,000 per kapita dan Saudi dengan $35,000 per kapita.

    Jika dibandingkan dengan negara-negara regional lain, pendapatan per kapita Irak sedikit lebih tinggi dibandingkan Iran yang berada di kisaran $5,000–5,500, tetapi jauh di atas Suriah dengan sekitar $1,200 dan Yaman di bawah $600 per tahun. Hal ini menunjukkan dampak destruktif konflik terhadap kesejahteraan warga.

    Perbedaan besar antara Irak dan negara-negara kaya minyak juga terlihat dari kemampuan mereka melakukan diversifikasi ekonomi. Sementara GCC telah menumbuhkan sektor jasa, investasi, dan industri, Irak masih sangat bergantung pada ekspor minyak dan menghadapi masalah struktural seperti korupsi, ketidakstabilan politik, dan lemahnya investasi produktif.

    Sektor non-minyak di Irak, termasuk pertanian, industri, dan jasa, masih terbatas, sehingga perekonomian sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi negara menjadi tidak stabil, dan menghambat perbaikan kesejahteraan rakyat secara merata.

    Di sisi lain, negara-negara konflik seperti Suriah dan Yaman menunjukkan bagaimana perang dan ketidakamanan menghancurkan kapasitas ekonomi jangka panjang. Meskipun memiliki sumber daya alam, kedua negara ini mengalami kontraksi ekonomi yang besar dan kemiskinan yang meluas.

    Ketidakstabilan politik dan konflik juga berdampak pada investasi asing di Irak. Ketidakpastian mengenai kepemimpinan politik dan keamanan menjadi faktor penghambat aliran modal, sementara negara-negara tetangga seperti UAE, Saudi, dan bahkan Iran memantau situasi dengan ketat terkait pengaruh regional yang ditimbulkan oleh Baghdad.

    Secara keseluruhan, kondisi ekonomi Irak berada di persimpangan. Meskipun memiliki potensi besar dari minyak dan posisi strategis di Timur Tengah, negara ini harus menghadapi tantangan internal dan eksternal. Perbandingan dengan negara-negara tetangga menunjukkan bahwa stabilitas politik dan keamanan merupakan kunci untuk memaksimalkan potensi ekonomi serta meningkatkan pendapatan per kapita bagi warganya.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...

    Jepang

    Belanda

    Spanyol