Di dunia politik internasional yang seringkali tunduk pada tekanan kekuatan besar, satu kata sederhana bergema di seluruh kawasan Kurdi: “Tidak.” Kata itu diucapkan oleh Mazloum Abdi, komandan Syrian Democratic Forces (SDF), dan kini menjadi simbol perlawanan bagi masyarakat Kurdi, meski tak semua warga Kurdi Suriah beranggapan seperti itu.
Cuitan oleh analis politik Jino Victoria Doabi yang memposting momen ini di X menangkap keberanian jarang terlihat untuk menolak Presiden AS Donald Trump, menunjukkan betapa sedikit pemimpin Eropa atau Arab yang berani menentang tuntutan Amerika.
Cuitan yang dibagikan pada 28 Januari 2026 itu dengan cepat menarik ribuan tampilan dan ratusan like, karena beresonansi dengan perjuangan panjang Kurdi untuk otonomi. Doabi menekankan bahwa sikap “Tidak” Abdi lahir bukan dari tindakan gegabah, melainkan didukung sepenuhnya oleh rakyatnya, yang digambarkan seperti gunung yang tak tergoyahkan. Metafora ini menyoroti ketahanan historis Kurdi, dibentuk melalui pengkhianatan dan konflik di Suriah, Irak, Turki, dan Iran.
Gambar yang menyertai cuitan memperlihatkan Abdi dalam seragam militer, menghadapi barisan mikrofon di konferensi pers. Dengan bendera kuning simbol identitas Kurdi di sekelilingnya, ekspresi serius Abdi menegaskan bobot keputusan tersebut. Media internasional, mulai dari ANHA, Boyer, hingga RT, meliput peristiwa ini, menunjukkan sorotan dunia terhadap momen penting tersebut.
Cuitan itu muncul bukan sekadar untuk menggembar-gemborkan keberanian, tetapi juga menggambarkan fakta strategis dan perasaan komunitas Kurdi. Abdi menolak arahan AS agar Kurdi bertempur melawan kelompok Syiah di Irak, sementara AS kemudian bergantung pada Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa sebagaimana dulunya kursi DK PBB tidak lagi dipegang Taiwan (Republik Tiongkok) yang pindah ke tangan RRT.
Keputusan ini dianggap menyoroti ketegangan antara kepentingan lokal Kurdi dan tekanan superpower, sehingga cuitan sekaligus menjadi kritik terhadap ketergantungan yang selalu mereka alami.
Beberapa komentar di thread memperlihatkan dimensi emosional dan pemujaan. Pengguna Elena menyatakan bahwa Abdi seharusnya memimpin Suriah, bukan Ahmad al-Sharaa, menyiratkan kekaguman dan frustrasi dengan kekacauan politik Suriah. Balasan Doabi menegaskan bahwa Abdi fokus pada Rojava, menegaskan prioritas kepemimpinan lokal dibanding ambisi nasional. Sentimen seperti ini mencerminkan chauvinisme Kurdi, rasa bangga etnis dan kepemimpinan mereka sendiri, sekaligus pemujaan terhadap figur Abdi.
Komentar lain, seperti dari AMED, menegaskan semangat Kurdi yang tak tergoyahkan: “Ketika soal kebebasan, Kurdi tidak akan tunduk pada siapa pun. Damai yang terhormat atau perang yang terhormat.” Pernyataan ini sejalan dengan metafora gunung dalam cuitan, menegaskan bahwa keputusan Abdi mencerminkan identitas historis dan narasi perjuangan Kurdi.
Minato menambahkan konteks sejarah: Abdi menolak permintaan AS untuk bertempur melawan milisi Syiah di Irak, yang membuat Kurdi ditinggalkan dan AS beralih ke Al Sharaa. Komentar ini menekankan aspek faktual dari cuitan, bahwa ada pengkhianatan strategis di balik keputusan Abdi, memperlihatkan realitas politik yang keras.
Komentar SIYABEND mengutip pepatah Kurdi: “Kurdi hanya punya teman gunung.” Ini memperkuat narasi isolasi yang sering dihadapi Kurdi, sekaligus menjelaskan mengapa “Tidak” Abdi memunculkan resonansi emosional: cuitan memadukan fakta sejarah dan simbolisme etnis.
Riz memuji keberanian Abdi: “Mengatakan ‘tidak’ butuh keberanian dan Mazloum Abdi melakukannya karena rakyatnya berdiri di belakangnya seperti gunung.” Hal ini menegaskan bahwa cuitan juga menjadi medium pemujaan terhadap kepemimpinan yang dianggap berintegritas dan dekat dengan rakyat.
Emojis doa dan kemenangan dari Erase Khatina menunjukkan dukungan simbolik yang melampaui bahasa, mencerminkan ikatan komunitas dan solidaritas diaspora Kurdi, sekaligus menegaskan bahwa cuitan bukan hanya komentar politik, tapi juga ekspresi emosional.
Anwar S. Karim, ekonom dan anggota gerakan Gorran di KRG, menekankan efek pemersatu keputusan Abdi. Pernyataan ini memberikan konteks politik nyata, menunjukkan bahwa cuitan muncul sebagai gabungan fakta, interpretasi politik, dan pengakuan kepemimpinan.
Dr. Wabash Land memberi kontra-argumen kritis, menyinggung potensi kerugian teritorial akibat keputusan Abdi. Ini menegaskan bahwa cuitan memicu debat seimbang, antara penghormatan, fakta strategis, dan skeptisisme terhadap hasil kebijakan.
Doabi membela, menyatakan Kurdi tetap berjuang sendiri, dibanding pemimpin dunia yang dianggap pengecut. Ini menekankan bahwa cuitan menekankan narasi heroisme Kurdi dibanding sekadar fakta politik.
Thread keseluruhan menunjukkan bagaimana satu kata—“Tidak”—bisa memicu solidaritas, debat, dan refleksi sejarah. Cuitan itu menyoroti kombinasi fakta, chauvinisme etnis, dan pemujaan terhadap kepemimpinan yang menjadi magnet bagi perhatian dunia.
Keputusan Abdi juga terkait dengan fakta nyata: upaya AS memanfaatkan SDF melawan milisi pro-Iran di Irak. Dengan menolak, Abdi menempatkan kepentingan Kurdi di atas kepentingan Amerika, menegaskan bahwa cuitan itu bukan hiperbola semata, tetapi berdasar strategi politik aktual.
Gambar Abdi dikelilingi media internasional menegaskan bahwa keputusan Kurdi berimplikasi global. Ini memperlihatkan fakta bahwa sikap “Tidak” tidak hanya simbolis, tapi berdampak pada dinamika keamanan dan aliansi regional.
Komentar-komentar yang muncul mencerminkan perpaduan kebanggaan etnis, kritik strategis, dan pemujaan figur, menegaskan bahwa cuitan viral muncul dari interaksi kompleks antara fakta, sejarah, dan emosi komunitas.
Cuitan Abdi juga membangkitkan kesadaran politik bagi diaspora Kurdi, menegaskan bahwa media sosial berfungsi sebagai alat pemersatu dan amplifikasi narasi etnis-politik.
Diskusi ini mengingatkan bahwa satu kata, jika diucapkan oleh pemimpin yang dipercaya, dapat menjadi simbol nasional dan memicu gelombang dukungan moral maupun politis.
Meski beberapa skeptis mempertanyakan risiko dan hasil keputusan, cuitan itu tetap menjadi inspirasi. Fakta sejarah dan konteks militer mendukung narasi ini, sedangkan elemen chauvinisme dan pemujaan membuatnya lebih kuat di kalangan pendukung.
Akhirnya, X thread ini menangkap esensi perjuangan Kurdi: kemandirian, solidaritas, dan keberanian menolak tekanan eksternal. Cuitan tidak hanya viral karena dramatis, tapi karena menegaskan fakta sejarah sekaligus membangkitkan kebanggaan etnis.
Dengan lebih dari 32.000 tampilan dalam satu hari, cuitan ini menegaskan bahwa satu kata—“Tidak”—dapat menyatukan bangsa, menjadi simbol keberanian dan harapan di tengah ancaman politik dan militer yang kompleks.



No comments:
Post a Comment